• Perjalanan Lemongan

    Oke. Lets check it. Beberapa waktu yang lalu, tanggal 15-16 Januari 2011, PLASMA mengadakan pendakian ke gunung Lemongan yang terletak di kawasan Klakah, kabupaten Lumajang.

  • Diesnat XXIV

    DIESNATALIS PLASMA XXIVDienatalisPLASMA XXIV diadakan tepatnya tanggal 18 Desember 2010 lalu.

  • VIDEO PELANTIKAN ANGGOTA BARU PLASMA

    Sorry bro...klo gambar kurang jelas, maklum file dibikin format 3GP.Property of: (www.rangerart.blogspot.com.

  • SURAT UNTUK PARA PETUALANG

    “Ayo bertualang“Keluarlah dari rumah, perhatikan apa yang ada di sekitarmu dan sadari betapa terpenjaranya dirimu selama ini. Nikmati pemandangan di depan matamu, dan di belakangmu, di atasmu atau bahkan di bawahmu! Raihlah puncak-puncak gunung yang sepi, turuni lembah-lembah dan selami jurang-jurang.

Jumat, 29 Juli 2011

0

Perjalanan Lemongan



 Oke. Lets check it. Beberapa waktu yang lalu, tanggal 15-16 Januari 2011, PLASMA mengadakan pendakian ke gunung Lemongan yang terletak di kawasan Klakah, kabupaten Lumajang.
Perjalanan dilakukan Sabtu sore, sepulang sekolah. Awalnya terdapat kendala kecil untuk menentukan waktu keberangkatan. Pasalnya, siswa kelas X dan XI harus mengikuti ekstra agama setiap Sabtu sepulang sekolah. Namun, entah ada angin apa, siang Sabtu, 15 Januari 2011, disiarkan bahwa ekstra agama ditiadakan. Horreee …! (padahal sudah ada planning untuk membolos kegiatan estra agama, hihi)
Semua anggota PLASMA yang hendak mengikuti pendakian pun segera pulang, agar tak terlalu sore jika berangkat. Plan awalnya pukul 14.00 WIB semua sudah harus ada di sekolah. Namun, seperti biasa, semua anggota PLASMA dan juga alumni yang turut serta baru berkumpul pada pukul 15.00 lebih. Mereka adalah Mas Tem, Mas Hadi, Dio (P-22), Yem – William (P-22), Dedy (P-22), Alfan (P-24), Linda (P-25), Robitah (P-25), Inez (P-25), dan Nanang (P-25). Pada pendakian kali ini, Dedy yang menjadi leader.
Kamipun duduk-duduk, menunggu datangnya kendaraan milik ketum PLASMA 24, PN a.k.a Putri Nabilah yang kali itu tidak ikut pendakian. Menunggu beberapa saat, kami menghabiskan waktu dengan check list barang bawaan, dan juga sekalian meregangkan kaki ke toilet.
Akhirnya mobil milik orang tua Putri Nabilah datang juga setelah ditunggu hampir satu setengah jam. Setelah ribut membagi kendaraan dan foto-foto sebentar (kenapa Cuma sebentar? Karena kebanyakan junior masih malu-malu kucing mau pose, hehe), rombongan pun dibagi dua dan berangkat menuju Klakah. Rombongan pertama menaiki mobil besar Elf dan terdiri dari Mas Tem, Mas Hadi, Dio, Yem, Dedy, Robitah, Inez dan Nanang. Sementara Linda dan Alfan naik Honda Jazz milik Putri Nabilah dan menjemput Tiara (P-24). Sementara Putri Nabilah hanya mengantar hingga kediaman Mbah Citro.
Mobil Elf melaju terlebih dulu. Di dalamnya terlempar obrolan dari sana-sini, meskipun tak begitu ramai. Rupanya lagi-lagi para junior masih merasa sungkan. Namun senior-senior berhasil mengatasi rasa canggung itu dan kami pun mulai bisa bercanda. Hingga kemudian tiba di Jorongan, dan kami memutuskan untuk menunggu rombongan Putri Nabilah.
Dedy pun berpindah kendaraan ke rombongan kedua, mengikuti Linda (ehem). Sementara rombongan pertama segera meneruskan perjalanan ke Klakah.
Setelah sempat terjebak kepadatan di jalanan, rombongan pun tiba di pasar Klakah dan menuju rumah Mbah Citro. Jalan yang dilalui ternyata tidak rata dan penuh bebatuan. Beberapa kali mobil terguncang oleh medan yang tidak bersahabat. Di sepanjang ruas jalan, berdiri tumbuh-tumbuhan lebat di kanan-kiri jalan. Akhirnya pukul 18.35, semua rombongan pun tiba di kediaman Mbah Citro. Kami menurunkan semua barang bawaan, lalu beristirahat di rumah Mbah Citro, yang luas dan terasa nyaman. Ada dua ruangan mirip aula yang mampu menampung puluhan orang. Belum lagi adanya arca, pintu masuk, dan ukiran di dinding yang membuat suasana sekitar terasa mistik (hehe, Cuma perasaan ding).
Tak terasa, tiba-tiba ada dua orang pendaki yang tiba-tiba turut masuk dalam rombongan kami. Mereka adalah Pak Agustiar Saifudin, guru di SMA Negeri 1 Probolinggo, sekaligus pembina ekstrakuliker tercinta, PLASMA, dan juga rekannya.
Disana rombongan bertemu dengan rombongan pendaki lain yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka berjalan menuju rumah Mbah Citro. Setidaknya kehadiran mereka membuat suasana tidak sepi.
Setelah meninum minuman yang manis, dan pergi ke toilet (toiletnya kesan horrornya dapet banget, udah gitu, nggak ada airnya lagi! Ckck), kami pun segera bersiap berangkat. Kami berdoa, dipimpin oleh leader, Dedy, dan kemudian berangkat bersama-sama.
Hanya Mas Tem dan Mas Hadi yang masih duduk-duduk sambil ngopi, berkata bahwa mereka akan menyusul kami nanti. Kami pun berangkat menuju pos pertama.
”Ke watu gede, dek,” jawab senior yang ditanyai juniornya. Yup, kita akan ke Watu Gede sebagai pos pertama.
Karena gelapnya malam, kami tidak bisa melihat dengan baik tanpa bantuan senter. Kami tak bisa melihat kanan-kiri ataupun menghafal jalan, karena pepohonan tumbuh cukup rapat, menghalangi sorot cahaya bulan, apalagi adanya mendung.
Senter hanya menyoroti langkah kami, agar tak tersandung atau tak terpisah. Beberapa kali obrolan terlontar, namun berhenti lagi. Rupanya masing-masing dari kami ingin menghemat energi dan juga memusatkan konsentrasi pada jalan.
Yang disadari, tiba-tiba kami sudah keluar dari tingginya pepohonan, dan berjalan melewati semak belukar.
Beberapa kali beberapa dari kami terjatuh karena jalan yang licin ataupun bebatuan yang ada. Beberapa kali pula kami beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Jalanan yang kami lalui semakin lama semakin menanjak. Belum lagi bebatuan yang licin dan juga tanaman yang merambat liar.
Setelah berjalan beberapa lama, kami beristirahat. Terasa lelah. Meskipun hanya para cowok yang membawa tas carrier, sementara para cewek hanya membawa backpack, namun semua sama-sama lelah. Kami meminum air yang kami bawa, sedikit demi sedikit. Karena di Lemongan tidak ada air. Kami harus membawa air dan menghematnya sebisa mungkin.
Tiba-tiba suara Pak Agustiar terdengar.
“Saya baru dapat sms dari Hadi, katanya mereka (Mas Hadi dan Mas Tem.red) sudah tiba di Watu Gede sejak tadi,” kata Pak Agustiar sambil mengutak-atik ponselnya.
Serentak kami melongo.
Kami yang berangkat lebih dulu saja masih belum sampai-sampai, kok Mas Hadi dan Mas Tem yang berangkat belakangan sudah stay duluan di Watu Gede?
“Nyasar,” suara Dio menimpali.
Kami pun berdiam diri sejenak, mengamati sekeliling. Dan kami sadar, kami masih berada di jalan setapak.
Dio, Dedy, dan Yem pun segera berkeliling, survey lokasi. Sementara Pak Agustiar mencoba menghubungi Mas Hadi dan Mas Tem yang sudah menunggu di Watu Gede. Tiba-tiba terlihat cahaya senter dikejauhan.
“Itu Mas Hadi! Watu gede!” tunjuk Pak Agustiar.
Kami semua menatap cahaya itu. Jauh sekali dari tempat kami berada sekarang. Gerimis mulai turun, menghalangi pandangan.
”Ayo balik,” putus Dedy, leader kami.
Kami pun segera bangkit. Dan berjalan kembali menyusuri jalan dimana kami berjalan tadi. Kali ini lebih berat, karena selain ada beban fisik dan mental, gerimis mengguyur kami. Beberapa dari kami menggunakan jas hujan.
Beberapa kali Dio, Yem dan Dedy mencari jalan, yang lain berusaha menghubungi Mas Tem dan Mas Hadi, agar menunjukkan lokasi mereka. Sekian lama berjalan (balik), kami beristirahat. Rasanya lelah, dan juga tak terduga. Kami seperti tak tahu arah di tempat yang tak kami kenal sama sekali. Belum hilang penatnya, tiba-tiba Nanang menanyakan keberadaan hapenya. Otomatis semua dari kami menjawab tidak tahu, karena kami memang tidak melihat ataupun membawa hape Nanang.
”Hapeku ilang rek...” keluh Nanang.
Kami hanya bisa mencari disekitar kami. Rupanya saku Nanang gampang terbuka, itu sebabnya hapenya hilang.
Tak ketemu, kamipun hanya bisa mengurut dada, tidak berusaha menghibur Nanang karena kami sendiri dalam keadaan tidak tenang.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada yang berteriak. Oh, untunglah… hape Nanang ditemukan. Hape itu kemudian dititipkan ke Tiara oleh Nanang. Kami cukup bernapas lega. Dan kedua kalinya, kami bisa melihat lagi cahaya senter Mas Hadi. Segera kami melangkah kembali lagi.
Dan.... eng ing eng.. rupanya kami tersesat di pertigaan pertama. Tanda penunjuk jalan yang benar ada di sebuah batu dan tidak terlihat jelas. Namun sekarang cukup terlihat karena bulan sudah mulai menampakkan cahayanya. Kami pun bersemangat, mengumpulkan sisa tenaga untuk menuju ke arah cahaya itu. Kali ini jalan setapak juga terlihat, namun bedanya tumbuhan sudah tidak lagi menghalangi pandangan atau menggores wajah kami.
Saling membantu teman yang tidak kuat, karena jalan sebenarnya cukup curam dan dipenuhi bebatuan yang kasar dan tajam.
Dan akhirnyaa.... pukul 23.45 WIB kami tiba di Watu Gede sebagai Pos Pertama.
Disana, beberapa dari kami yang masih memiliki tenaga ekstra, utamanya para cowok, mendirikan tenda. Sementara para cewek masak. Tapi Robitah sudah tertidur beralaskan rumput dan backpaknya. Rupanya ia kelelahan berat.
Tenda berdiri, dan Bitah – panggilan Robitah – pun tertidur di dalamnya. Yem mengeluarkan sleeping bag untuk digunakan Bitah agar tak kedinginan. Yang lain sibuk memasak.
Selesai memasak, kami pun makan bersama, dibalut cuaca dingin.
Istirahat beberapa saat, pukul 02.30 semua anggota dibangunkan. Kami akan berangkat sebentar lagi menuju puncak. Baru kami tahu ternyata rombongan yang tadi kami temui di kediaman Mbah Citro juga berkemah tak jauh dari kami. Mereka asyik bernyanyi sambil menyalakan api unggun. Suara tawa mereka yang terdengar sayup-sayup diterpa angin seolah mengantarkan rasa kantuk lagi dalam diri kami.
Setelah selesai bersiap-siap, rupanya kami masih menikmati panorama kota dari atas Watu Gede beramai-ramai. Eh, tak dinyana, malah kami tertidur. Sekarang berkebalikan. Para cewek tidur diluar. Tenda dikuasai oleh para cowok.
Hem.. rupanya, molor lagi. Hihi..
Dan tiba-tiba terdengar sapaan. Kami serentak menoleh, dan mendapati Satria Yudha (P-23), berjalan bersama teman-temannya, melambai akrab ke arah kami. Kami balas berseru dan melambai.
Baru pukul 03.15 kami benar-benar berangkat menuju puncak. Namun Bitah dan Dio tidak ikut. Bitah merasa badannya tidak enak, jadi dia memutuskan untuk tidak ikut. Begitu juga dengan Dio.
Di rombongan menuju puncak kali ini ada Pak Agustiar dan rekannya, Dedy, Linda, Yem, Alfan, Inez dan Nanang. Para cewek tidak membawa tas, karena semua diletakkan di tenda. Hanya para cowok yang membawa tas berisi makanan, air dan ponco. Mas Tem, Mas Hadi dan Tiara berkata akan menyusul.
Jalan yang dilalui kali ini lebih berat dari sebelumnya. Bebatuan di sepanjang jalan, dan jalan yang menanjak lurus dan curam. Kami harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Beberapa kali kami berhenti, kemudian berpaling dan menatap kota yang masih terlihat cahayanya. Lalu meneruskan perjalanan.
Beberapa kali kami terjatuh dan tertatih melewati jalan yang tidak rata, dan makin lama makin banyak jurang di sisi kanan-kirinya.
Suatu kali ketika kami beristirahat, tiba-tiba kami sadar Alfan tidak ada. Tasnya dititipkan pada Pak Agustiar sementara dirinya sendiri kembali ke camp karena tidak kuat. Memang sebenarnya, kami melihat wajah Alfan yang cukup pucat.
Pukul 04.50 kami beristirahat di sebuah tempat yang cukup lapang. Dari sana kami melihat matahari yang sinar lembutnya malu-malu menyingkap gelapnya malam yang sudah tergeser waktu.
Setelah cukup terang, kami segera melanjutkan perjalanan.
Semakin lama jalanan terasa semakin parah saja. Bebatuan kali ini tidak hanya tersebar di sepanjang jalan, namun juga semakin sering berjatuhan. Jika yang terdepan tidak hati-hati memijak, yang belakang bisa dihujani batu hitam dari yang berukuran kecil, sedang, hingga besar.
Ketika melihat ke depan, rasanya puncak gunung sudah terlihat. Kamipun bersemangat berjalan, namun ternyata, masih ada jalan berkelok-kelok. Begitu seterusnya. Kami selalu merasa melihat puncak gunung, namun ketika kami berusaha menghampirinya, puncak itu malah berganti dengan hutan-hutan.
Beberapa kali Linda terjatuh. Ia mengeluhkan sakit di kakinya. Dedy pun mengikuti perkataan Linda. Kami semakin sering beristirahat. Saat itulah, Yem memutuskan untuk berjalan lebih dulu dan membuka jalan.
Kami pun berjalan lagi. Beberapa kali kami berseru memanggil Yem untuk menanyakan jalan. Yem menyahutinya dengan seruan keras, dan kami pun kembali berjalan. Perjalanan dihiasi dengan obrolan dari Pak Agustiar (ketika saya menulis artikel ini beliau sedang mengajar di depan saya:D) dan rekannya yang humoris dan tak ada habisnya.
Semakin jauh naik ke atas, melewati medan yang curam dan licin, Linda semakin merasakan sakit di kakinya. Ia jadi sering beristirahat. Tentunya, Dedy tidak absen menemani Linda. Akhirnya Inez pun pamit berjalan lebih dulu.
Di beberapa bagian jalan, tercipta terowongan-terowongan dari tumbuh-tumbuhan merambat. Membuat kami harus merangkak untuk melewatinya. Belum lagi tumbuhan berduri yang membuat kami harus hati-hati kalau mencari pegangan.
Rimbunan pohon tidak juga hilang. Semakin naik melangkah, rasanya tiada habisnya. Namun, tak lama tampak bebatuan berdiri kokoh.
”Itu dia! Dari yang kubaca di internet, puncaknya penuh batu,” seru Yem. Ia semakin semangat melangkah. Pepohonan terlewati, lalu tampaklah bebatuan besar disana-sini. Jalan terasa semakin curam saja, mungkin karena tidak adanya pepohonan yang menutupi curamnya gunung.
Pukul 07.00 WIB lintasan pelangi terukir di angkasa. Pagi itu ada dua pelangi yang bergantian terlihat dari balik awan putih. Mereka beristirahat di bebatuan.
Anggota yang sudah sampai tidur di puncak, menunggu yang lain sambil mengobati rasa lelah dan kantuk yang menyerang.
Pukul 08.00 WIB, semua anggota yang naik tiba di puncak. Cahaya mentari sudah mulai menyinari, terasa hangat di badan kami yang tertiup angin.
Setelah beristirahat sejenak, pukul 08.30 kami mengadakan ceremony kecil-kecilan, dengan memegang bendera PLASMA dan menyanyikan lagu Padamu Negeri, Indonesia Raya, dan lagu favorit, Syukur.
Kami pun kembali beristirahat, makan camilan yang kami bawa sambil menikmati pemandangan. Tak lupa kami berpose, menghilangkan lelah sambil menentukan gaya yang pas dan keren untuk sekedar oleh-oleh pulang. Hehe.. Linda dan Dedy langsung berfoto pra-wed. Yem dibuat jadi fotografer utama. Tak lupa foto bareng-bareng. Hoho.. narsismania deh.
Kabut mulai naik beberapa saat kemudian. Membuat kami serasa dikelilingi asap sejuk dari segala arah. Sedikit-sedikit kami melontarkan obrolan dan cerita.
Pukul 10.00, kami memutuskan untuk turun. Sedikit ngeri sih, saat melongok ke bawah yang terlihat adalah dataran luas nan hijau membentang.
”Gimana cara turunnya, nih?” tanya para junior.
Dedy memimpin, dan kamipun turun dengan hati-hati. Eh, celananya Inez sampe’ sobek gara-gara dia turun dengan merosot.
Kami kembali menyusuri jalan yang tadi kami lewati. Rasanya kok, susah juga sih? Padahal para junior, yang baru naik gunung, berfikir bahwa yang perlu dipikirkan hanyalah jalan naiknya menuju puncak. Turun mah, keciill... olala.... ternyata, turun pun perlu dipikirkan!
Yem kembali mendahului, lantaran merasa energinya masih cukup. ”Kalau istirahat, nanti tambah capek,” alasannya.
Dan.. ia berlari turun. See, berlari! Whoa... para junior melongo melihatnya berlari gesit kemudian menghilang di balik pepohonan.
Beberapa dari kami terjatuh, karena jalannya curam dan licin. Kami menggunakan tumbuhan dan ranting yang ada di sepanjang jalan setapak untuk berpegangan. Tak jarang kami harus merosot untuk menyusuri jalan.
Beristirahat, Nanang memilih ikut berlari setelah meminum air. Kami terpisah-pisah ketika turun. Ada yang meniti langkah dengan hati-hati, karena kalau kami tidak hati-hati, batu-batu bisa berjatuhan dengan mudahnya dan akan mengenai teman-teman yang ada di depan. Ukuran batunya pun bermacam-macam. Mulai dari sekecil kerikil, sampai sebesar kepalan tangan orang dewasa bahkan lebih. Ada juga yang nekat merosot turun, kalau kata Inez biar sekalian celananya sobek. Ada yang berlari, mengikuti jejak Yem dan Nanang. Ada juga yang santai, contohnya Pak Agustiar dan rekannya.
Dan baru pada pukul 13.00 siang kami semua tiba di Watu Gede.
Dan perlu diucapkan terima kasih pada trio yang saat itu pake’ baju biru-biru, Dio, Bitah dan Alfan, karena makanan sudah tersedia dan rombongan yang tiba dari puncak bisa langsung mengisi ulang tenaga yang terkuras.
Kami segera packing. Berbeda dengan packing ketika akan berangkat, yang barang bawaan dikelompokkan berbagai jenis kemudian di masukkan ke masing-masing satu tas, kini kami bertanggung jawab atas barang-barang kami sendiri.
Setelah itu kami berdoa, dan kemudian kembali berjalan, menuju rumah Mbah Citro. Rombongan terpisah menjadi dua. Dedy, Linda, Nanang, Inez, Bitah dan Alfan di depan. Sementara Yem, Dio, Tiara, Mas Tem, Mas Hadi, Pak Agustiar dan rekannya (sampai sekarang saya belum tau namanya :p) di belakang.
Di rombongan Dedy, beberapa kali kami tersasar. Kami harus jalan balik, lalu mencoba jalan lain, dan begitu seterusnya hingga bertemu dengan jalan yang benar. Sesekali meneriakkan seruan bagi kelompok kedua untuk memilih jalan yang benar. Terdengar sahutan nang jauh disana.
Kembali berjalan, Dedy melangkah lebih dulu untuk mengecek dan ia memastikan (lagi) kalau rombongannya tersasar. Rombongan pun berjalan balik.
Begitu menemukan jalan yang benar, tak disangka, Linda jatuh dan pingsan.
Kami segera meluruskan tubuhnya dan mengoleskan minyak angin untuk menyadarkannya. Tak lama, terdengar erangannya dan kami menghembuskan napas lega.
Nanang mengeluarkan sebotol air putih dari carriernya dan diberikannya pada Linda. Linda meminumnya dengan mata setengah terpejam.
”Mas.. kakiku sakit...” ucapnya lirih dan terbata.
Segera Dedy bertanya bagian mana yang sakit. Linda menunjuk paha kirinya. Tempat pen-nya dipasang. Rupanya, Linda pernah kecelakaan dua tahun yang lalu, dan di paha kirinya itu dipasaing pen. Ia mengeluhkan rasa sakit pada bagian itu.
Dedy pun memutuskan untuk menggendong Linda. Namun Linda memekik. Ia mengeluhkan posisi yang tidak pas dan kakinya yang sakit. Dicoba beberapa kali, hasilnya sama saja. Sepertinya Linda tidak bisa dibopong, apalagi oleh satu orang.
Dengan mata masih terpejam dan wajah pucat, Linda menunjukkan bagian-bagian di kakinya yang harus dipegang dengan hati-hati. Ia pun mengeluhkan pusing dan mual.
Alfan segera berangkat ke rumah Mbah Citro, memanggil bantuan. Inez juga menghubungi nomor ponsel Dio dan Yem. Bitah membalurkan minyak angin di kening dan leher Linda. Dedy menanyai Linda tentang keadaan fisiknya. Nanang sendiri menunggu bantuan.
Lama tak kembali Nanang pun menyusul Alfan untuk memanggil bantuan. Yang lain masih sibuk merawat Linda. Beberapa kali mencoba untuk membopong Linda, namun posisinya kurang tepat dan malah menyakiti Linda.
Tak lama datang Dio dan Yem. Bersama, setelah mendengar penjelasan Linda, kami mengangkatnya perlahan. Berhenti beberapa saat, lalu mengangkatnya lagi. Rumah Mbah Citro kira-kira 200 meter lagi dari tempat kami.
Berjalan lebih jauh, kami merasa bahwa tidak mungkin membawa Linda dengan cara begitu. Selain kami lelah, kami takut posisi Linda salah dan akan menyebabkan rasa sakit.
Yem, Alfan, dan Nanang segera kembali ke rumah Mbah Citro, untuk memanggil bantuan lagi. Yang lain menunggu. Tak lama mereka kembali dengan Mas Hadi dan membawa sarung, serta dua ruas bambu panjang dan kuat.
Kami membuat tandu darurat dengan bambu, ranting, dan kain sarung. Bambu dan kayu diikat, dan kain sarung dimasukkan. Linda segera dinaikkan, dan dibawa ke rumah Mbah Citro. Namun tak cukup begitu saja, rupanya jalan setapak terlalu kecil dan sempit untuk membawa tandu. Yang membawa harus menerobos semak-semak di pinggir jalan dan sesekali bergeser.
Mas Hadi menyuruh para cewek untuk memanggil bantuan lagi dan membawa tas yang masih ada.
Tapi, belum juga bantuan menyusul, rupanya rombongan yang membawa Linda sudah tiba di rumah Mbah Citro. Jam menunjukkan pukul 17.15. Disana mobil Yem sudah menunggu sejak tadi. Kami menaikkan Linda ke dalam dan mengganjal kakinya dengan sleeping bed setelah mendapatkan posisi yang tepat.
Semua barang segera dibawa masuk, dan kami pun masuk ke dalam. Meskipun sempit-sempitan, hingga ada yang tidak dapat tempat duduk dan akhirnya duduk di bawah, mobil melaju juga. Kali ini lebih hati-hati daripada berangkat. Sebab kaki Linda masih sakit dan keadaan jalan yang buruk hingga membuat kendaraan bergoyang bisa menambah sakitnya.
Meskipun kelelahan, obrolan masih saja terus mengalir. Apalagi dari Pak Agustiar dan rekannya yang lucu dan tidak ada habisnya. Belum lagi ada kejadian lucu dengan sebuah truk pengangkut kayu. Hm....
Bitah rupanya turun di Klakah. Cewek asal Lumajang ini rupanya dijemput keluarganya di pasar Klakah. Kami pun menurunkan dan menungguinya di depan Alfamart Klakah, hingga ia dijemput orang tuanya. Lalu perjalanan diteruskan. Hampir separuh dari isi mobil tertidur, kecuali sopir tentunya.
Pukul 20.00, mobil tiba di PMI Probolinggo. Disana sudah menunggu anggota PLASMA dan juga alumni. Ada Mas Iwan (P-5), PN (P-24), Wulan (P-24), Erlinda (P-25), Rio (P-25), Pakde (P-22), (aduh.. lupa!), dan kawan-kawan.
Semuanya mengobrol dan bercerita. Tak lama kemudian, terdengar keputusan bahwa Linda harus dirujuk ke rumah sakit umum. Kamipun bersama-sama ke rumah sakit umum.
Linda langsung diperiksa, dan personil PLASMA yang datang makin banyak. Ada Ayiek (P-23), Nuruddin (P-23) dan Edo (P-23) yang baru datang.
Kami menunggu, sambil bertukar cerita di emperan rumah sakit. Ketika Linda selesai diperiksa, Erlinda dan Inez masuk dan membantu gadis itu memakai celananya. Lalu kami mengantar Linda pulang ke rumahnya, menceritakan apa yang terjadi pada orang tua dan keluarga Linda. Jam menunjukkan hampir pukul 11 malam.
Dan setelah itu, kami pulangg……!
Home Sweet Home
Dan begitulah. Perjalanan kami ke gunung Lemongan memang tidak mulus begitu saja. Kami harus melewati berbagai rintangan untuk bisa mencapai puncak.
Tapi, sesuai kata para senior, puncak bukan segalanya. Masih ada puncak yang lebih tinggi lagi untuk kita raih. Yang terpenting bukanlah langkah yang pertama, langkah kedua, maupun langkah ketiga, dan seterusnya. Namun masih ada langkah ke sepuluh ribu, ke satu juta, dan ratusan juta lainnya.
Hihi.. kutipan favorit PLASMA.
Banyak juga sih, kesan-kesan via Facebook :
Mas Yem :
”...baru kali ini pendakian ada ceweknya. Haha..”
Mas Dio :
”..seru rek. Eman aku ndak melu ke puncak.. loro iku!”
Nanang :
”...sikilku njarem rek...”
Inez :
”...kangen lemongan...”
Mas Kopeng :
”...selamat, sudah berhasil membawa bendera PLASMA ke puncak Lemongan.. jangan kapok..!”
Lain-lainnya lupa deh. Hoho.. oke, cukup segitu aja cerita tentang pendakian PLASMA ke gunung Lemongan, Klakah, Kabupaten Lumajang, kali ini (cukup segitu aja? Perasaan udah berapa lembar nihh...!) Akan ada buanyaaaakkk lagiiii liputan-liputan menarik lainnya tentang pendakian ataupun pengalaman seru kami.
PLASMA... TABAH SAMPAI AKHIR !!!
Kacang_panjang^25

Senin, 09 Mei 2011

0



DIESNATALIS PLASMA XXIV

DienatalisPLASMA XXIV diadakan tepatnya tanggal 18 Desember 2010 lalu. kegiatan dimulai pukul 19.30. acara pertama yaitu sambutan ketua panitia oleh Yuli Winarni dilanjutkan sambutan oleh pembina PLASMA Bpk. Agustiar Saifudin. Setelah itu, para tamu undangan diminta berdiri untuk bersama - sama menanyikan lagu Indonesia Raya.
Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh ketua umum PLASMA kepada Pembina PLASMA.
Acara kemudian diisi dengan penampilan dari undangan dan anggota PLASMA sendiri.



<------ persiapan logistik yang agak "geridu"
<<<< (--")

Minggu, 28 November 2010

0

VIDEO PELANTIKAN ANGGOTA BARU PLASMA


Sorry bro...klo gambar kurang jelas, maklum file dibikin format 3GP.

Property of: (www.rangerart.blogspot.com)

Sabtu, 20 November 2010

1

MARS PLASMA


DI SINI KAMI BERDIRI
MENEMBUS BATAS DIRI
MENGASAH JIWA YANG RAPUH
TAJAMKAN HATI YANG MATI
BERSAMA KAMI MELANGKAH
RENUNGKAN ARTI DIRI
HANCURKAN KESOMBONGAN
ALAM KAN SELALU MENYAPA
INILAH KAMI
JIWA YANG TERUS MENYALA
INILAH KAMI
PLASMA YANG TABAH SAMPAI AKHIR
Created at 14 November 2010
I.E.S Dharma

Selasa, 16 November 2010

0

AGENDA PLASMA


UNDANGAN
PARA ALUMNI, PENGURUS DAN ANGGOTA BARU PLASMA
DALAM RANGKA ACARA
DIES NATALIS PLASMA
YANG RENCANANYA AKAN DIADAKAN
PADA TANGGAL 18 DESEMBER 2010
TEMPAT:
SMAN 1 PROBOLINGGO
Start
19.00 WP (Waktu Plasma) -Vomit

Senin, 15 November 2010

0

SURAT UNTUK PARA PETUALANG




“Ayo bertualang.......”
“Keluarlah dari rumah, perhatikan apa yang ada di sekitarmu dan sadari betapa terpenjaranya dirimu selama ini. Nikmati pemandangan di depan matamu, dan di belakangmu, di atasmu atau bahkan di bawahmu! Raihlah puncak-puncak gunung yang sepi, turuni lembah-lembah dan selami jurang-jurang yang paling dalam, panjatlah dinding-dinding terjal, basuhkan tubuhmu di sungai-sungai kecil yang jernih dan mengalir deras, nikmati udara dingin yang membekukan darahmu dan ciumlah harum dedaunan di sepanjang perjalananmu! Biarkan tubuhmu sejenak bercumbu dengan alam. Karena di sanalah kalian akan menemukan jiwa yang benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa atau seperti elang yang menukik tajam bersujud tunduk kepada penciptanya. Tinggalkan sejenak rumahmu, lupakan kesibukanmu, benamkan segala masalah yang sedang kalian hadapi, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Cobalah sekali-kali kita merenungi ayat-ayat Tuhan yang tersirat di tengah hutan yang lebat, di kedalaman jurang dan sungai-sungai yang berteriak tanpa henti, di antara puncak-puncak gunung dan awan pekat yang selalu menutupi, diantara nyanyian burung-burung dan suara hewan melata yang sedang sibuk mencari makan. Marilah sesekali kita berjalan menjelajahi alam yang kaya misteri ini. Temukan ketenangan di sana, rasakan kegembiraan yang terus membara, nikmati belaian tangan-tangan alam. Pikirkan dan sekaligus hayati ciptaan Tuhan yang sangat luas dan indah ini.


Karena kita hanya sekali saja hidup di sini!”


kawan....... berhentilah sejenak dari kesibukan munafikmu, tenang dan damaikan kembali jiwamu, pikirkan dan kembali renungkan.........renungkan.........dan renungkanlah! Mengapa kau biarkan hidupmu terjebak dalam aturan busuk abad 21 ini. Prestasi....prestise.......karier.......gelar. semua itu palsu!


Ayo kembalilah ke takdirmu, karena kita terlahir untuk bebas meniti jalan-jalan di muka bumi ini, menyusuri alam, meraih arti kebersamaan, membahagiakan semua orang yang kau temui!!! Dan kitapun tak akan pernah takut mati kapanpun atau dimanapun.



I.E.S DHARMA
PLASMA XIV

Kamis, 31 Juli 2008

0

kode etik pecinta alam se-Indonesia


“ PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “

“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”

” PECINTA LAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.

7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang Pukul 01.00 WITA